Sunday, March 27th 2011 @loubelleshop Bandung

Adib Jalal of Fivefootway & Awesome Anything (SING)

Deadwolf (JKT)

—–

Dengan ditemani instalasi teh seduh (teh yang dikonsumsi sebatas: estetikanya) di atas karpet yang sudah puluhan kali hatam mengaji, Sunday Trivia #0 dibuka tepat di tengah paradisiacal sprawl Setiabudi, Bandung; di halaman belakang LouBelle Shop.

Adib Jalal. Baru saja keluar dari pekerjaan tetapnya sebagai arsitek di Singapura, dan memilih meledakkan uang-uang sisa kerjanya selama 3 tahun terakhir dengan mengunjungi kota-kota dunia, termasuk diantaranya Bandung. What’s it about? “I only dream to riot, and oh you should try it”. Dengan latar belakang disiplin arsitektur, urban, dan desain, Adib berwacana tentang fenomena Slashie, baik dalam segi berprofesi maupun berbudaya; mengingat menjadi bagian dari warga Singapura = menjadi bagian dari hibrida garis miring. Cina iya, Melayu iya, barat iya, timur iya, global iya, lokal iya, arsitek iya, web designer juga iya. God-like.

Sementara Deadwolf adalah sebuah kreatur, yang terbentuk ketika Rio Sabda (Illustrator)  berkata “Dead” dan Steven Dian (Graphic Designer) yang menyambutnya dengan kata “Wolf”. Deadwolf! Singkat kisah, setelah sekian lama mereka merasa ditipu oleh dosen kampusnya yang  mengiming-imingi fee 2 milyar untuk setiap proyek logo di perusahaan besar grafis di Jakarta (dengan realita pahit dimana sampai sekarang mereka masih merasa tertipu) mereka akhirnya memutuskan untuk mencoba berhenti tertipu untuk kemudian mulai membangun sebuah studio grafis independen di sela-sela jam kerja kantorannya; kali ini dengan visi kebebasan dari perburuhan, hura-hura, dan ya… sedikit balas dendam. “Steal from the rich to give to the poor,” ujar Steven, yang ternyata menjadi obrolan super menarik bagi kita-kita yang tentunya, masih sama-sama poor (Y).

Cuaca menyenangkan dan pohon-pohon meneduh tinggi hingga Mary Poppins pun iri, dan Bapak Marin, luar biasa berbaik hati. alham-du-li……. lah…

photo taken by the lovely loubelleshop

Have fun later then

TO READ IS TO HEAR. Membaca bukan sekedar aktivitas menggeser pupil mata semacam mesin tik. Padan dengan getaran impuls telinga: membaca adalah usaha sepersejuta kilatan listrik dalam menggendong berita menuju otak. Sementara mendengar adalah pasrah dengan bombardir intervensi— divine intervention— karena telinga tidak pernah menutup seluruhnya. Keduanya bertumpuk menghasilkan aktivitas yang komplementer, ekivalen: a devoted act, usaha mencapai ilmu, informasi, impresi kalengan yang segar terolah.

TRIVIA CLUB. Sebuah usaha rendah hati untuk siapapun saling mengulurkan telinga dan mata: sebuah toko serba ada mau tutup yang membagikan impresi kalengan secara populer. Entah, mungkin kaleng sejarah subkultur anti-something yang diceritakan seorang yang tidak diduga ahlinya. Mungkin deretan-deretan slide foto stensilan tahun 70 yang tidak nyambung dengan cerita filsafat modern yang terhisap ke telinga; Mungkin tentang astronomi, seperti eee…supernova. atau mungkin tentang  mengapa aksi merokok itu jatuhnya cool; karena impresi terserah yang beli.

WHO’S TALKING WHO? Kami mencoba mengkuliahkan sebuah diskusi ultra-trivial yang luput dari aktivitas mendengar dan membaca anda oleh seorang pembagi – jika bukan pengajar – setiap sesinya. Siapa berbicara apa—benarkah penting? Ketika seorang sarjana teknik ternyata antusias membagikan sejarah kuno Afrika, diskusi tidak perlu berhenti. Tutup mata dan gendang telinga biarkan menjadi subwoofer saja.

SEEING IS NO BELIEVING. Kami mencegah kita menambah satu detik lebih lama membaca a la mesin tik dan aktivitas-aktivitas undead lainnya di depan layar putih 17 inch anda yang bulak balik di alamat  itu lagi. Kami belum yakin pengetahuan benar-benar ada dibalik kode-kode biner delusional ini, dan siapapun yang benar di antara kita, TRIVIA CLUB menunggu anda datang, terbagi dan berbagi.

 

Teh manis gratis. :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.